India adalah sebuah negara di asia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia, dengan populasi lebih dari satu miliar jiwa, dan adalah negara terbesar ketujuh berdasarkan ukuran wilayah geografis. Jumlah penduduk India tumbuh pesat sejak pertengahan 1980-an. Ekonomi India adalah terbesar keempat di dunia dalam PDB, diukur dari segi paritas daya beli, dan salah satu pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia. India, negara dengan sistem demokrasi liberal terbesar di dunia, juga telah muncul sebagai kekuatan regional yang penting, memiliki kekuatan militer terbesar dan memiliki kemampuan senjata nuklir.
Terletak di asia selatan dengan garis pantai sepanjang 7.000 km, dan bagian dari anak benua india, India merupakan bagian dari rute perdagangan penting dan bersejarah. Dia membagi perbatasan dengan Pakista, RRC, Myanmar, Bangladesh, Nepal, Bhutan, dan Afganistan. Sri Langka, Maladewa dan Indonesia adalah negara kepulauan yang bersebelahan.
(sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/India)
Kamis, 27 Desember 2012
Jawa
Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dengan penduduk 136 juta, pulau ini merupakan pulau berpenduduk terpadat di dunia dan merupakan salah satu wilayah berpenduduk terpadat di dunia. Pulau ini dihuni oleh 60% penduduk Indonesia. Ibu Kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat. Banyak sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Jawa dahulu merupakan pusat dari beberapa kerajaan Hindu Budha, kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia Belanda, serta pusat Pergerakan Kemerdekaan Indonesia. Pulau ini berdampak sangat besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.
Jawa adalah pulau yang sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik, merupakan pulau ke tiga belas terbesar di dunia dan terbesar kelima di Indonesia. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini. Terdapat tiga bahasa utama di pulau ini, namun mayoritas penduduk menggunakan bahasa jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 60 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua. Sebagian besar penduduk Jawa adalah muslim, namun terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini.
Pulau ini secara administratif terbagi menjadi empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan banten serta dua wilayah khusus, yaitu DKI Jakarta dan DIY.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa
Jawa adalah pulau yang sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik, merupakan pulau ke tiga belas terbesar di dunia dan terbesar kelima di Indonesia. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini. Terdapat tiga bahasa utama di pulau ini, namun mayoritas penduduk menggunakan bahasa jawa. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 60 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua. Sebagian besar penduduk Jawa adalah muslim, namun terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini.
Pulau ini secara administratif terbagi menjadi empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan banten serta dua wilayah khusus, yaitu DKI Jakarta dan DIY.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa
Jelajah Keajaiban Flores
Menjauh dari hiruk pikuk popularitas magis Pulau Dewata, terus melewati Lombok, yang dikenal dengan pantai-pantai cantiknya, kita akan menemukan gugusan Pulau Flores. Sebuah tempat yang keajaibannya telah membuai para penjelajah.
Termasuk ke dalam kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Lombok, Pulau Flores yang berada di Nusa Tenggara Timur mungkin tidak sepopuler Bali yang mendunia, atau saudara dekatnya Lombok, yang lewat kecantikan Gili masuk ke dalam daftar destinasi pilihan 2011 versi Lonely Planet. Namun, sama seperti kedua pulau tetangganya tersebut, Flores dengan keajaiban kecilnya telah memukau dunia. Anugerah alam yang menjadi surge para petualang. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Termasuk ke dalam kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Lombok, Pulau Flores yang berada di Nusa Tenggara Timur mungkin tidak sepopuler Bali yang mendunia, atau saudara dekatnya Lombok, yang lewat kecantikan Gili masuk ke dalam daftar destinasi pilihan 2011 versi Lonely Planet. Namun, sama seperti kedua pulau tetangganya tersebut, Flores dengan keajaiban kecilnya telah memukau dunia. Anugerah alam yang menjadi surge para petualang. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Pulau Bunga di Nusa Tenggara Timur
Dalam bahasa Portugis, Flores adalah bunga. Ibarat bunga yang mekar mewangi dan mengundang kumbang pesona keunikan Flores telah memikat banyak wisatawan mancanegara maupun domestic. Sebagai surga wisata, terdapat beragam pilihan keunikan di titik wisata pulau bunga tersebut. Sebut saja atraksi Taman Nasional Komodo yang mengundang adrenalin atau pesona surga kecil Taman Nasional Kalimutu yang memiliki Danau Tiga Warna.
Flores semakin menjadi buah bibir sejak Taman Nasional Komodo setelah sempat menjadi nominasi Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Dengan segala keunikannya, kadal raksasa yang sering disebut-sebut sebagai naga ini adalah atraksi utama wisataFlores. Kenyataan ini memberikan angin segar dalam perkembangan dunia pariwisata pulai ini. Seperti yang di kutip dari harian Media Indonesia, kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo dari Januari hingga Desember 2010 mencapai 35 ribu pengunjung. Statistik ini cukup membanggakan, mengingat pada tahun 2006, jumlah wisatawan yang dating ke pulau ini belum menembus angka 10 ribu. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Flores semakin menjadi buah bibir sejak Taman Nasional Komodo setelah sempat menjadi nominasi Tujuh Keajaiban Alam Dunia. Dengan segala keunikannya, kadal raksasa yang sering disebut-sebut sebagai naga ini adalah atraksi utama wisataFlores. Kenyataan ini memberikan angin segar dalam perkembangan dunia pariwisata pulai ini. Seperti yang di kutip dari harian Media Indonesia, kunjungan wisatawan ke Pulau Komodo dari Januari hingga Desember 2010 mencapai 35 ribu pengunjung. Statistik ini cukup membanggakan, mengingat pada tahun 2006, jumlah wisatawan yang dating ke pulau ini belum menembus angka 10 ribu. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Kerajaan Komodo
Memasuki pulau Komodo, Kita akan disambut dengan birunya laut, debur ombak, dan pasir putih yang membuat kepenatan perjalanan pun terlupakan. Maklum, jarak tempuh menuju Pulau Komodo memang memakan waktu yang cukup panjang. Setelah encapai Bandara Komodo di Labuan Bajo dengan penerbangan dari Denpasar atau Kupang, masih dibutuhkan dua hingga lima jam perjalanan laut untuk bertandang ke kerajaan kadal purba ini. Selain lewat jalur udara, alternative lain yang bisa Kita pilih adalah berlayar menggunakan kapal feri dari Bali atau Lombok menuju Pulau Komodo, dengan waktu tempuh sekitar 25-36 jam. Sesampainya di Loh Buaya, Pulau Komodo, Kita akan disambut oleh para ranger (sebutan untuk pemandu atau pawing komodo) yang menjelaskan rute perjalanan menuju Banunggulung dan berjumpa dengan sang bintang Komodo. Ada 3 pilihan rute perjalanan, rute pendek sepanjang 3 kilometer, rute menengah sepanjang 5 kilometer, dan rute panjang sejauh 8 kilometer. Setiap rute memiliki tantangan tersendiri, dan bisa dipastikan penjelajah akan merasakan adrenalin mengalir kencang saat bertemu pemangsa yang memiliki racun mematikan tersebut.
Teriknya matahari adalah tantangan lain dalam petualangan ini, untuk itu persiapkanlah topi dank rim tabir surya untuk melindungi kepala dan kulit Kita dari sengatan sinar matahari. Rencanakan perjalanan Kita antara bulan Maret hingga Agustus, karena itu adalah waktu terbaik untuk melihat komodo, mengingat cuaca yang cerah cocok untuk trekking dan perilaku komodo yang sudah begitu ganas selepas musim kawin (September-Januari). (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Teriknya matahari adalah tantangan lain dalam petualangan ini, untuk itu persiapkanlah topi dank rim tabir surya untuk melindungi kepala dan kulit Kita dari sengatan sinar matahari. Rencanakan perjalanan Kita antara bulan Maret hingga Agustus, karena itu adalah waktu terbaik untuk melihat komodo, mengingat cuaca yang cerah cocok untuk trekking dan perilaku komodo yang sudah begitu ganas selepas musim kawin (September-Januari). (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Istana Ora
Melalui padang-padang stepa, sabana, perbukitan, dan hutan yang meranggas, penjelajahan untuk bertemu ora (julukan masyarakat local untuk komodo) dimulai. Tidak boleh membuang sampah sembarangan, harus membawa minuman, tidak menggerakan anggota badan atau barang dengan berlebihan, dan yang terutama jangan pernah terpisah dari rombongan, adalah beberapa peraturan yang harus dipatuhi agar terhindar dari ancaman bahaya air liur dan bisa komodo yang sangat beracun.
Gigitannya tidak begitu tajam, namun tarikan rahang komodo yang kuatlah yang berbahaya. Cukup satu gigitan, bakteri dari air lir dan tujuh saluran bisa dari gusi komodo sanggup melumpuhkan mangsa yang kuat dan besar sekali pun. Aroma darah akan memanggil kerumunan hewan yang cenderung penyendiri ini. Pelan tapi pasti, komodo mengikuti mangsanya hingga lemah. Saat mangsa sudah tidak mampu bergerak, waktu bersantap pun dimulai.
Dalam perjalanan, wisatawan dapan menjumpai anak-anak komodo di dahan dan cabang pohon, tempat yang paling aman dari gangguan para predator. Sementara di baying-baynag pepohonan yang teduh, dapat ditemui komodo dewasa yang sedang beristirahat, namun belum menemukan komodo karena beberapa dari mereka biasa berkumpul di bawah rumah peristirahatan. Sembari melepas dahaga dan rasa lapar, wisatawan tetap dapat melihat kadal purba yang menjadi daya pikat Flores ini. Selain di Pulau Komodo, pelancong juga dapat melihat komodo di Pulau rinca dan Pulau Padar, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Gigitannya tidak begitu tajam, namun tarikan rahang komodo yang kuatlah yang berbahaya. Cukup satu gigitan, bakteri dari air lir dan tujuh saluran bisa dari gusi komodo sanggup melumpuhkan mangsa yang kuat dan besar sekali pun. Aroma darah akan memanggil kerumunan hewan yang cenderung penyendiri ini. Pelan tapi pasti, komodo mengikuti mangsanya hingga lemah. Saat mangsa sudah tidak mampu bergerak, waktu bersantap pun dimulai.
Dalam perjalanan, wisatawan dapan menjumpai anak-anak komodo di dahan dan cabang pohon, tempat yang paling aman dari gangguan para predator. Sementara di baying-baynag pepohonan yang teduh, dapat ditemui komodo dewasa yang sedang beristirahat, namun belum menemukan komodo karena beberapa dari mereka biasa berkumpul di bawah rumah peristirahatan. Sembari melepas dahaga dan rasa lapar, wisatawan tetap dapat melihat kadal purba yang menjadi daya pikat Flores ini. Selain di Pulau Komodo, pelancong juga dapat melihat komodo di Pulau rinca dan Pulau Padar, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Warna Warni Kalimutu
Selain keunikan komodo, Flores masih menyimpan keajaiban lain, salah satunya adalah Danau Kalimutu, yang juga dikenal sebagai Danau Tiga Warna. Julukan tersebut diambil dari pesona Danau Kalimutu yang unik karena warna airnya dapat berubah-ubah, dari warna hitam, merah, biru, hijau, hingga putih. Danau Tiga Warna sendiri sebenarnya adalah tiga kawah bekas letusan gunung Kalimutu pada tahun 1886 yang memiliki air berwarna merah, biru, dan putih. Perubahan warna yang unik ini tidak langsung dimulai, melainkan baru terjadi pada tahin 1969, pasca meletusnya Gunung Iya di Ende. Selama ini pula, kira-kira sudah 12 kali Danau ini berubah warna.
Menuju Danau Kalimutu, perjalanan dimulai dari kota Ende yang terletak di arah timur pulau Flores. Dari kota yang pernah menjadi tempat pengasingan presiden RI yang pertama tersebut, Danau Kalimutu masih berjarak sekitar 51 kilometer. Bertandang ke danau ini memang membutuhkan usaha tersendiri. Karena itu, agar bisa menikmatinya, bertolak dan bermalamlah di Kampung Moni, kampong terdekat dari danau Kalimutu, yang dapat ditempuh lewat perjalanan darat selama kurang lebih dua jam dari kota enda.
Saat terbaik meninggalkan Kampung Moni untuk bergerak menuju pintu masuk Danau Kalimutu adalah sekitar pukul 03.00 agar dapat menikmati panorama matahari terbit di Danau Tiga Warna. Berharaplah cuaca mendukung, karena bila kabut turun sangat tebal, pendakian terpaksa harus dibatalkan karena alasan keamanan. Dari kampong di Desa Moni Koanara yang terletak sejauh 13 kilometer dari danau, wisatawan masih harus melakukan perjalanan menggunakan mobil selama kurang lebih satu jam untuk menuju pintu masuk. Dari sini, turis masih harus menyusuri dan mendaki gunung Kalimutu selama satu setengah jam hingga akhirnya mencapai Danau Tiga Warna. Namun semua usaha itu terbayar ketika melihat pemandangan edelweiss yang ditemani dengan panorama matahari terbit selepas mendaki. Apalagi keindahan yang luar biasa telah menanti di puncak. Perpaduan warna hitam, hijau, dan biru telur asin dari Danau Tiga Warna akan menyambut kehadiran Kita. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Menuju Danau Kalimutu, perjalanan dimulai dari kota Ende yang terletak di arah timur pulau Flores. Dari kota yang pernah menjadi tempat pengasingan presiden RI yang pertama tersebut, Danau Kalimutu masih berjarak sekitar 51 kilometer. Bertandang ke danau ini memang membutuhkan usaha tersendiri. Karena itu, agar bisa menikmatinya, bertolak dan bermalamlah di Kampung Moni, kampong terdekat dari danau Kalimutu, yang dapat ditempuh lewat perjalanan darat selama kurang lebih dua jam dari kota enda.
Saat terbaik meninggalkan Kampung Moni untuk bergerak menuju pintu masuk Danau Kalimutu adalah sekitar pukul 03.00 agar dapat menikmati panorama matahari terbit di Danau Tiga Warna. Berharaplah cuaca mendukung, karena bila kabut turun sangat tebal, pendakian terpaksa harus dibatalkan karena alasan keamanan. Dari kampong di Desa Moni Koanara yang terletak sejauh 13 kilometer dari danau, wisatawan masih harus melakukan perjalanan menggunakan mobil selama kurang lebih satu jam untuk menuju pintu masuk. Dari sini, turis masih harus menyusuri dan mendaki gunung Kalimutu selama satu setengah jam hingga akhirnya mencapai Danau Tiga Warna. Namun semua usaha itu terbayar ketika melihat pemandangan edelweiss yang ditemani dengan panorama matahari terbit selepas mendaki. Apalagi keindahan yang luar biasa telah menanti di puncak. Perpaduan warna hitam, hijau, dan biru telur asin dari Danau Tiga Warna akan menyambut kehadiran Kita. (Sumber : Majalah Bukopin Prioritas)
Langganan:
Komentar (Atom)